Selasa, 15 Maret 2011
TEKNOSOSIAL PENGELOLAAN SAMPAH UNTUK KONSERVASI LINGKUNGAN
Pengomposan Model Takakura. Teknik pengelolaan sampah rumah tangga oleh pakar sampah dari Jepang yakni oleh Prof Koji Takakura dari JPEC. Beliau mengajarkan pengelolaan sampah rumah tangga dengan memasukkan sampah basah ke dalam keranjang sampah yang diisi sekam dan pupuk sehingga menjadi kompos secara otomatis. Selanjutnya metode ini dikenal dengan model Takakura. Model Takakura adalah pengomposan individual (sampah volume kecil), jika dilakukan dengan benar dalam proses tidak ada bau busuk dan higienis. Pemilihan wadah/ keranjang tergantung bahan yang tersedia, selera dan volume sampah setiap hari.
Pengomposan ini tidak memerlukan tempat luas, tetapi tidak boleh kena hujan atau sinar matahari langsung. Sampah organik dipisahkan dari sampah anorganik kemudian dicacah menjadi berukuran antara 2 cm x 2 cm agar mudah dicerna mikroba kompos. Wadahnya boleh keranjang cucian isi 40 L atau lebih dikenal dengan keranjang Takakura, ember bekas cat atau kaporit (isi 25 L), drum bekas yang dipotong menjadi 2 bagian (isi 100 L), keranjang rotan atau bambu yang isinya lebih dari 25 L untuk mempertahankan suhu kompos.
Pengomposan Komunal. Memerlukan bangunan tanpa dinding, atapnya bisa dari plastik terpal, daun kirai, plastik gelombang, genteng dan sebagainya tergantung bahan yang tersedia. Lantainya bisa tanah, semen atau paving blok. Kita bisa menyebutnya sebagai Rumah Kompos. Untuk wadah pengomposan sampah organik agar dapat menyimpan panas, kotak harus memiliki volume paling sedikit 500 L atau memiliki panjang 75 cm, lebar 75 cm dan tinggi 1 m. Salah satu sisinya harus bisa dibuka, untuk mengeluarkan adonan kompos jika seminggu sekali dibalik. Banyaknya kotak tergantung jumlah sampah yang dikelola. Hal penting agar tempat pengomposan bersih dan tidak berbau busuk, sampah yang masuk hanya sampah orgaik saja. Sampah organiknya diturunkan di Rumah Kompos, selanjutnya oleh petugas dicacah (manual atau dengan mesin pencacah). Jika menggunakan mesin pencacah, agar sampah tidak mengeluarkan air dan untuk menambahkan unsur Karbon, dicampurkan terlebih dahulu serbuk gergaji. Jika pencacahan secara manual, serbuk gergaji dicampurkan sebelum masuk wadah kompos. Aktivator yang digunakan adalah adonan kompos yang masih aktif atau belum selesai berproses. Jika menggunakan mesin pencacah, aktivator ditambahkan sebelum masuk mesin. Adonan kompos dari sampah organik jika diaduk setiap hari, akan matang dalam waktu kurang lebih 10-14 hari, namun harus distabilkan dahulu sampai suhu menjadi seperti suhu tanah, kira-kira makan waktu 2 minggu baru bisa dipanen.
Pengomposan Alami. Teknik pengelolaan sampah untuk konservasi alam dapat dilakukan dengan pengomposan alami berguna untuk menambah kemampuan tanah dalam menyimpan air, menciptakan lingkungan yang baik bagi kehidupan jasad renik tanah sehingga tanah menjadi subur berguna untuk membantu pertumbuhan tanaman. Bila dicermati lebih lanjut, pengomposan alami mempunyai multi fungsi yaitu: mengatasi permasalahan timbunan sampah, recovery lingkungan yang berorientasi ekologis, menghemat biaya pengomposan. Volume sampah organik relatif banyak seperti halnya di UNNES, dan tersedia tenaga peronil Cleaning Service pengomposan dapat dilakukan dengan sistem open window yaitu dengan timbunan-timbunan yang memerlukan pembalikan. Kompos setengah jadi dicampurkan ke adonan kompos yang sudah berusia kurang lebih 1 minggu, dan matang bersama-sama. Bila tidak tersedia tenaga peronil pengomposan dapat diatasi dengan metode simpan di dalam tanah (closed dumping system) disebut juga sanitary landfill. Metode ini hampir sama dengan pemupukan, tetapi cekungan yang telah penuh terisi sampah ditutupi tanah, namun cara ini memerlukan areal khusus yang relatif luas. Keberpihakan yang berorientasi ekologis dalam pengelolaan sampah secara komunal secara otomatis mendatangkan keuntungan finansial (ekonomis), karena produk kompos dalam jumlah yang lebih banyak serta pembudayaan berperilaku ramah lingkungan. Dua sistem pengomposan inilah dapat dilakukan yang dapat menempatkan UNNES sebagai universitas konservasi.
Enkulturasi. Enkulturasi merupakan proses pembudayaan untuk mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikap dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang berlaku di komunitasnya. Bentuk awal dari enkulturasi adalah meniru berbagai macam tindakan orang lain, setelah perasaan dan nilai budaya yang member motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasikan dalam kehidupan kepribadiannya dengan berkali-kali meniru tindakannya menjadi pola yang mantap, dan norma yang mengatur tindakannya dibudayakan. Enkultutasi dapat diterapkan UNNES dalam pengelolaan sampah untuk mendukung konservasi karena berpotensi mengubah paradigma bahwa sampah kita tanggung jawab kita. Anggota komunitas menempatkan dirinya sebagai manajer hulu dalam memilah sampah yang diproduksinya. Mengubah kebiasaan membuang sampah menjadi mengelola sampah perlu upaya dan memerlukan proses (pembudayaan).
4. Implementasi 4 R Dalam Pengelolaan Sampah Untuk Konservasi
Konsep
Optimalisasi
Berpotensi
Reduce
Menghematan pemakaian kertas, dll.
Perilaku hemat
Reuse
Memanfaatkan sampah kertas:
Barang kerajinan
Bubur kertas (media blok, peta 3D, patung, relief diorama, dll.
Memanfaatkan sampah ranting, daun, plastik, kaleng untuk hiasan dan souvenir
Budaya bersih, kreatif, menumbuhkan jiwa wira usaha
Recycle
Mengolah sampah organik menjadi kompos, dan briket arang
Budaya bersih, kreatif, menumbuhkan jiwa wira usaha dan hemat energi dan energi terbarukan
Recovery
Pengomposan alami berguna untuk:
menambah kemampuan tanah dalam menyimpan air
menciptakan lingkungan yang baik bagi kehidupan jasad renik tanah
menyuburkan tanah untuk tanaman
Peduli lingkungan (konservasi).
Berangkat dari konsep R4 di atas perlu dioptimasilasikan dalam pengembangan penerapannya dalam keseharian yang dimulai dari lingkup terdekatnya. Meningkatnya sampah tidak dapat dihindari namun dapat diantisipasi dan dikelola agar tidak menjadi persoalan yang membahayakan lingkungan (termasuk manusia). Beberapa alternatif dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif sampah, dari skala individu, rumah tangga maupun skala komunitas. Berbagai metode dan model pengelolaan sampah dapat dilakukan oleh anggota komunitas dengan menempatkan dirinya sebagai manajer hulu dalam R4 dari sampah yang diproduksinya. Komunitas perlu menyisihkan ruang di areanya sebagai sebagai tempat untuk proses produksi dalam mengubah sampah organik menjadi humus. Budaya arif terhadap lingkungan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah dari yang telah ada sebelumnya. (Diskusi Rabuan FIS, 23 Februari 2011, Dr. Eva Banowati, M.Si.)


0 komentar:
Posting Komentar